Sabtu, 02 April 2016

Pespektif Syarat Hidup.

"saya waktu kecil melarat banget, pokoknya nanti anak saya harus tercukupi semuanya jangan kayak saya"
“Waktu kecil, saya makan aja susah, masih sukur ada nasi kering, dan anak saya sekarang harus makan enak.”
“Waktu kecil, saya belajar ditemani lilin dan buku lusuh bekas atau pinjaman. Sekarang anak saya, saya sekolahkan ke Inggris.”


We experienced the worst and therefore we tend to give the best.The question is, is the best…is what they need? Really?

no offense, ga ada salahnya nyekolahin anak ke luar negri, selera men. kemauan orang tua juga pendidikan terbaik. 


banyak juga orang kaya yang attitudenya diancungi jempol, humble banget, down to earth. tapi kalau diperhatikan kebanyakan orang sukses juga dulunya hidup susah, itu adalah perjalanan dan ujian nyata yang mereka alami, membuat mereka sukses karena sudah diasah selama hidup.


terus kembali ke pertanyaan tadi, kita mau membuat generasi yang bermental baja, tapi memberi mereka pelayanan, kemudahan dan menghilangkan semua kesulitannya? bukannya kalau begitu jadinya kita menciptakan generasi yang butuh Syarat seabrek buat menjalani hidup.


doktrin orang tua : "dulu anak saya susah,saya harus pastikan mereka ga kekurangan lagi"

itu namanya kasih sayang orang tua, dan tidak ada salahnya. (kembali lagi disini kan saya cuma berpendapat)
ini yang terjadi akibat efek itu : 
ada temen cerita : "ada sepupu gue perawatan kukunya mantep, saking bagus dan mahalnya itu perawatan sampe ga bisa Sampoan dia.. kalo sampoan nyalon ya jadinya hampir tiap hari pergi nyalon jadinya"

"biasa minum air minum steril berbayar, sekalinya minum air rebusan ngeluh rasanya ga enak"


"biasa makan es krim ben and jerry's, sekalinya makan eskrim lokal langsung pusing dibuang pas gigitan pertama"


"ngambek-ngambek dirumah neneknya ga ada air panas, atau pengen es krim yg lewat malah es kentong ga ada stand Baskin robbins"


memang ini masalah kenyamanan dan pilihan, pendapat umum bahwa nyaman itu penting. dan kalau kenyamanan mereka seperti diatas, mau bagaimana?.

kalau boleh saran, ya jadikan saja nyaman itu sesuatu yang "nice to have" bukan sesuatu yang "i should have"

salah satu pencerahan yang saya temukan :

pernah baca dari sebuah blog katanya anak sultan Jogja itu masih kecilnya dikirim di pedalkeun (lepasin) buat hidup di desa, makan seadanya, main-main disawah seperti anak seumurannya, mandi disumur kadang disungan bareng teman-temannya. 
jadi mereka anak sultan tapi mereka fahamnya anak sultan ya sama aja kaya temannya yang lain dilingkungan ini, berstandar hidup rendah dan merasa cukup dengan itu. berbahagia dan masih bisa tertawa lebar senang bahagia. 

Dia makan Steak, pizza, hamburger, tapi dia tahu itu adalah sebuah kemewahan, bukan sebagai syarat hidup minimum.


dari sini saya berfikir, tanpa disadari pelan-pelan saya juga membuat syarat hidup saya bertambah banyak. bahaya juga. maka dari itu saya pun harus berfikir dan sadar seharusnya syarat hidup tidak sehedon ini.


Papah pernah ajak jalan-jalan naik angkutan, busway, saya juga masih ingat pernah naik Metro mini dan kopaja hahaha. well dad.. 

mungkin maksudnya Papah, ada baiknya bawa aku naik kopaja atau busway sebelum aku berfikir kalau naik angkutan umum itu adalah rendah. tidak ada salahnya naik kendaraan pribada kesekolah sama dengan tidak ada salahnya naik angkutan umum kesekolah.
Papah selalu melarang menilai orang dari jenis mobil yang mereka bawa, toh banyak mobil mewah yang tiba-tiba buka jendela mobilnya dan buang sampah dijalan.
kita pergi ke mall, makan diluar naik angkutan umum dan masih bisa have fun ketawa dijalan tuh.


dad teach me to pursue happiness so that i learn the value and purposes of things. Not the price of things.

nasi kemarin yang masih sangat layak dimakan, kadang pagi-paginya digoreng sama mamah. 

tidak ada salahnya makan nasi kemarin sama dengan tidak ada salahnya buat berangkat sekolah naik kendaraan umum.

sebagai orang tua tentu pasti punya cara sendiri-sendiri buat mendidik anak-anaknya, ada juga yang sentimen ini salah itu salah. semua cara tidak ada yang salah. makanya disini aku lebih ke "feel free" terserah gimana. 

(kembali lagi ini kan share pendapat)

kalau Orangtua saya lebih ke mengenalkan semua step bentuk kehidupan. memperkenalkan ragam kemewahan dari telor ceplok sampe steak.



agar anak-anak mengenal apa itu susah, sebelum mereka mengeluh. Agar anak-anak mengenal apa itu mewah, sebelum mereka kaget dan tidak bijak mengelolanya.